Kelarutan Zat
KELARUTAN ZAT
I.
TUJUAN
1. Menentukan
kelarutan suatu zat dalam suatu zat pelarut
2. Menggambarkan fase diagram tiga komponen /
diagram terner
II. DASAR TEORI
Kelarutan suatu zat adalah suatu
konsentrasi maksimum yang dicapai suatu zat dalam suatu larutan. Partikel-partikel
zat terlarut baik berupa molekul maupun berupa ion selalu berada dalam keadaan
terhidrasi (terikat oleh molekul-molekul pelarut air). Makin banyak partikel
zat terlarut makin banyak pula molekul air yang diperlukan untuk menghindari
partikel zat terlarut itu. Setiap pelarut memiliki batas maksimum dalam
melarutkan zat. Untuk larutan yang terdiri dari dua jenis larutan elektrolit
maka dapat membentuk endapan (dalam keadaan jenuh).
Jika
kedalam sejumlah air kita tambahkan terus menerus zat terlarut lama kelamaan
tercapai suatu keadaan dimana semua molekul air akan terpakai untuk menghidrasi
partikel yang dilarutkan sehingga larutan itu tidak mampu lagi menerima zat
yang akan dtambahkan. Kita katakan larutan itu mencapai keadaan jenuh.
Zat cair yang hanya sebagian larut dalam cairan lainya,
dapat dinaikan kelarutannya dengan menambahkan suatu zat cair yang berlainan dengan kedua zat cair yang
lebih dahulu dicairkan. Bila zat cair yang ketiga ini hanya larut dalam suatu
zat cair yang terdahulu, maka biasanya kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu itu akan
menjadi lebih kecil. Tetapi bila zat cair yang ketiga itu larut dalam kedua zat
cair yang terdahulu, maka kelarutan dari kedua zat cair yang terdahulu akan
menjadi besar.
Diagram Terner
Untuk
campuran yang terdiri atas tiga komponen, komposisi (perbandingan masing-masing
komponen) dapat digambarkan di dalam suatu diagram segitiga sama sisi yang
disebut dengan Diagram Terner. Komposisi dapat dinyatakan dalam fraksi massa
(untuk cairan) atau fraksi mol (untuk gas).
Diagram
tiga sudut atau diagram segitiga berbentuk segitiga sama sisi dimana setiap sudutnya
ditempati komponen zat. Sisi-sisinya itu terbagi dalam ukuran yang menyatakan
bagian 100% zat yang berada pada setiap sudutnya. Untuk menentukan letak titik
dalam diagram segitiga yang menggambarkan jumlah kadar dari masing-masing
komponen dilakukan sebagai berikut.
Pada salah
satu sisinya ditentukan dua titik yang menggambarkan jumlah kadar zat dari
masing-masing zat yang menduduki sudut
pada kedua ujung sisi itu. Dari kedua titik itu ditarik garis sejajar dengan sisi dihadapnya, titik dimana kedua
garis itu menyilang, menggambarkan kadar masing-masing zat.
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
a.
Bola hisap
b.
Pipet tetes
c. 8 buah Erlenmeyer 50 ml + 1 buah Erlenmeyer
100 ml
d.
2 buah buret 50 ml
e.
2 buah corong pemisah
f.
2 buah statif dan 2 penjepit buret
g. 1 buah gelas ukur 5 ml dan 30 ml
h.
gelas kimia 10 ml
B.
Bahan
a.
Asam asetat glasial
b.
Kloroform (CHCl2)
c.
Aquades
d.
Larutan standar NaOH 3 M
e.
Indikator fenoptalein (PP)
IV. FLOW CHART
a.Pengumpulan Data Percobaan
![]() |
b.
Pemeriksaan Data
![]() |
V. DATA PERCOBAAN
a. Masa Jenis (r)
asam asetat glasial (CH3COOH)
1 liter = 1.05 kg
M = 60.05 gram/mol
1000 ml
=
1,05 gr/ml
b. Masa
jenis (r) kloroform (CHCl3 )
Massa Erlenmeyer = 56,792 gram
Massa khloroform (5 ml) dan Erlenmeyer = 63,668 gram
Massa khloroform (5 ml) = 6,876 gram
r khloroform = 6,876 gram/ 5 mL
= 1,3752 gram/ mL
c.
Menghitung massa dan % berat
berat
total
Contoh
perhitungan dari data no 6
·
Massa
kloroform = 4ml x 1.3752gram/ml = 5,5008 gram
·
Massa
asam asetat glasial = 6ml x 1.05gram/ml = 6,3gram
·
Massa
aquades = 3ml x 1gram/ml = 3gram
·
Massa
total = (5,5008 + 6,3 + 3) gram = 14,8008
·
% berat kloroform = 5,5008 x 100%
14,8008
= 37,16 %
·
% berat asam asetat glasial = 6,3 x 100 %
14,8008
= 42,57 %
·
% berat air = 3
x 100% = 20,27 %
14,8008
|
No
|
Kloroform
|
As. Asetat
|
Air
|
||||||
|
%
|
gram
|
ml
|
%
|
gram
|
ml
|
%
|
Gram
|
ml
|
|
|
1
|
88,87
|
12,3768
|
9
|
7,54
|
1,05
|
1
|
3,59
|
0,5
|
0,5
|
|
2
|
77,47
|
11,0016
|
8
|
14,79
|
2,1
|
2
|
7,74
|
1,1
|
1,1
|
|
3
|
65,60
|
9,6264
|
7
|
21,46
|
3,15
|
3
|
12,94
|
1,9
|
1,9
|
|
4
|
55,56
|
8,2512
|
6
|
28,28
|
4,2
|
4
|
16,16
|
2,4
|
2,4
|
|
5
|
46,07
|
6,8760
|
5
|
35,17
|
5,25
|
5
|
18,76
|
2,8
|
2,8
|
|
6
|
37,16
|
5,5008
|
4
|
42,57
|
6,3
|
6
|
20,27
|
3
|
3
|
|
7
|
27,73
|
4,1256
|
3
|
49,41
|
7,35
|
7
|
22,86
|
3,4
|
3,4
|
|
8
|
17,57
|
2,7504
|
2
|
53,67
|
8,4
|
8
|
28,76
|
4,5
|
4,5
|
|
9
|
7,23
|
1,3752
|
1
|
49,67
|
9,45
|
9
|
43,1
|
8,2
|
8,2
|
Percobaan 2 ( sampel no 6)
|
V1 NaOH
( lapisan bawah)
|
V2 NaOH
(lapisan atas)
|
Berat V1
|
Berat V2
|
|
7,8 ml
|
24 ml
|
2,78 gram
|
9,809 gram
|
Mol
asam asetat glacial
Mol asam asetat
glacial : massa /
Mr = 6,3 / 60,05 = 0,1049 mol
Mol
NaOH
Mol NaOH pada
lapisan atas : 24 ml x 3 M = 0,072 mol
Mol NaOH pada
lapisan bawah : 7,8 ml x 3 M = 0,023 mol
Mol total NaOH :
0,072 + 0,023 = 0,095 mol
VI. PEMBAHASAN
Dalam
percobaan ini, kami melakukan 9 kali percobaan yaitu pencampuran asam asetat
glasial dan kloroform dengan komposisi volume yang berbeda tetapi total komposisinya
tetap yaitu 10 ml. Campuran asam asetat glasial dan kloroform terlihat homogen,
hal ini menunjukkan bahwa asam asetat glasial larut dalam kloroform. Kemudian
campuran tersebut dititrasi dengan aquades sampai mulai mengeruh. Keadaan
tersebut disebut titik akhir titrasi dan menunjukkan bahwa campuran tersebut
telah jenuh. Artinya larutan telah mengandung zat terlarut dalam konsentrasi
maksimum (tidak dapat ditambah lagi). Kloroform dan aquades tidak dapat saling
melarutkan karena kloroform bersifat nonpolar sedangkan aquades bersifat polar.
Asam asetat glasial berfungsi sebagai emulgator karena memiliki gugus polar
sehingga larut dengan aquades maupun kloroform.
Setelah
percobaan tersebut dilakukan sebanyak 9 kali terlihat bahwa semakin banyak asam
asetat glasial yang dicampurkan dengan kloroform maka semakin banyak pula
aquades yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi. Sehingga dapat
diketahui bahwa asam asetat glasial dapat menaikkan kelarutan kloroform dalam
air, dan pada komposisi tertentu akan homogen.
Setelah
% berat dihitung dari masing-masing komponen, kemudian dibuat diagram terner.
Dari diagram tersebut terlihat adanya kurva yang merupakan batas antara
campuran homogen dan heterogen ( tepat jenuh ). Bagian atas kurva menunjukkan bahwa
campuran tersebut heterogen sedangkan bagian lainya menunjukkan campuran
homogen. Pada percobaan kedua kami menggunakan sampel nomor 6 dengan
perbandingan komposisi asam asetat glasial dan kloroform ( 6 : 4 ). Sampel
tersebut dimasukkan ke dalam corong pemisah dan setelah dikocok beberapa saat
maka terbentuk 2 lapisan, lapisan bawah kloroform dan lapisan atas asam asetat
glasial dan aquades. Hal tersebut disebabkan adanya perbedaan massa jenis,
dimana asam asetat glasial dan aquades memiliki massa jenis yang lebih rendah
(1,05 gram/ml dan 1 gram/ml) berada di lapisan atas, sedangkan kloroform
memiliki massa jenis yang paling tinggi (1,3752 gram/ml) berada di lapisan
bawah.
Kemudian
kedua lapisan tersebut dipisahkan untuk menguji ada atau tidaknya asam asetat
glasial. Kedua lapisan tersebut dititrasi dengan menggunakan NaOH 3 M. Untuk
mencapai titik akhir titrasi, NaOH yang dibutuhkan pada lapisan atas (aquades +
asam asetat glasial) adalah 24 ml dan lapisan bawah (kloroform) 7,8 ml.
Perubahan warna menjadi pink pada lapisan atas menandakan bahwa campuran telah
netral atau pH7 sebagai hasil campuran dari asam atau basa. Sedangkan perubahan
warna pada lapisan bawah menunjukkan tidak adanya asam asetat glasial dalam
larutan tersebut.
Setelah dilakukan perhitungan diketahui
total mol NaOH yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi adalah 0,095
mol dan mol asam asetat glasial sampel adalah 0,1049 mol (mol NaOH hampir sama
dengan mol asam asetat glasial). Percobaan pemeriksaan data dikatakan benar bila
mol NaOH yang dibutuhkan untuk titrasi sama dengan mol asam asetat glasial
sampel. Sedangkan pada percobaan yang kami lakukan ada selisih sebesar 0,0099
mol, hal itu terjadi dimungkinkan karena kesalahan pengamatan kekeruhan pada
saat titrasi campuran asam asetat glasial + kloroform oleh aquades.
VII. KESIMPULAN
·
ρ
asam asetat glasial =
1,05 gram/ml dan ρ kloroform
= 1,3752 gram /ml
·
Mol asam asetat glacial sample no 6 = 1,049 mol
≈ mol NaOH = 0,095 mol
·
Semakin
banyak asam asetat glasial yang dicampurkan dengan kloroform maka semakin
banyak pula aquades yang dibutuhkan untuk mencapai titik akhir titrasi. Jadi,
Asam asetat glasial dapat menaikkan kelarutan kloroform dalam air
·
Diagram terner
|
Senyawa
|
% Massa
|
||||
|
Titik 1
|
titik 2
|
titik 3
|
titik 4
|
titik 5
|
|
|
Asam asetat glasial
|
49,67
|
49,41
|
35,17
|
21,46
|
7,54
|
|
Khloroform
|
7,23
|
27,73
|
46,07
|
65,60
|
88,87
|
|
Air
|
43,1
|
22,86
|
18,76
|
12,94
|
3,59
|
·
Daerah A
adalah daerah heterogen yang menyatakan bahwa masing-masing zat belum dapat
larut secara utuh, biasanya dalam daerah ini akan terbentuk lapisan pemisah
dikarenakan adanya perbedaan kelerutan dan ikatan kimia dari masing-masing
senyawa. Sedangkan, daerah B adalah daerah homogen yang menyatakan
masing-masing zar larut secara utuh.
VIII. DAFTAR PUSTAKA
1. Anshory, Irfan. 2003. Kimia SMU Untuk
Kelas 3. Jakarta : Erlangga
2.
Slowwinski, Emil J. 2003. Chemical Principles in the
Laboratory with Qualitative Analysis. Japan
3. Purba, Michael. 2000. Kimia 2000 Kelas 2.
Jakarta : Erlangga


Komentar
Posting Komentar